Instrumental adalah lagu yang paling jujur —
setidaknya menurutku seperti itu. Ia tak menebar-nebar janji, tak mengumbar-umbar rasa, ataupun memilu-milukan luka. Ia hanya diam. Berucap dalam keheningan, bertutur dalam tenang. Sepi dan syahdu.
Dalam alunan musik instrumen gadis itu terjaga hingga larut malam. Dengan kedua buku ditangan, ia membaca. Tidak, sebenarnya ia tidak benar-benar membaca. Ia hanya butuh sesuatu untuk membuatnya mengalihkan tanya. Setidaknya cara itu bekerja di awal 5 menit pertama.
Desahan nafasnya membelah keheningan malam. Menjadi sinyal bahwa ia menyerah pada keberpura-puraan ini. Semua kenaifan yang ia sembunyikan dalam balutan senyum yang diperlihatkan setiap harinya.
Bukankah semua manusia berpura-pura?
Kita ini sama, berpura-pura untuk melindungi jiwa lain agar tak terluka. Membangun dinding tebal transparan untuk menutupi sayatan akibat lisan. Menyepi dan mengurung diri di dalam lubang yang tak terjamah. Hingga akhirnya menutupi siapa diri kita sebenarnya. Gelap dan pekat.
Naif, aku biasa menyebutnya.
Selayaknya filosopi kopi, ia menunggu. Menunggu kapan harus meniup kopi yang panas, atau menyeruput sesaat setelah panas hilangnya. Ia sedang menunggu kapan ia harus menikmati kopinya.
Dalam tanya.
Dalam diam.
Dalam kenaifan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar