Not all writings show the writers' true feeling. It's only their ways to entertain the readers. Sincerely me

Rabu, 23 Januari 2013

Invicible Admirer


Kuhaturkan Selamat Pagi untukmu yang berada jauh bermil mil dari Indonesia. Selamat Pagi! Aku tebak kau masih terlelap dalam pulasmu setelah berlatih keras di kota pelabuhan nun jauh disana, Merseyside.  Peluh, tekanan, dan ekspektasi pasti sanggup membuat otakmu jumpalitan bukan? Merantau jauh dari Cadiz pasti membuatmu merasa sedikit lelah. Ah, sudahlah tak usah dengarkan ke-soktauan ku ini.

Februari 2011 adalah saat dimana  aku mulai mengenalnya lewat sebuah forum online sepakbola di internet. Dia yang namanya sering disebut membuatku penasaran dan mulai menelusuri google hingga youtube untuk mencari tau tentangnya. Sama seperti yang lain, apapun yang diperlihatkan youtube selalu tampak luar biasa bukan?

Pujian dan sandingan dengan nama-nama hebat membuatku mulai memperhatikan setiap pertandingan yang ia mainkan. Hingga suatu hari aku benar benar jatuh hati pada sebuah tendangan bebasnya. Indah. Persis seperti tarian dan liukan yang ia tunjukkan bersama teman temannya.

Itulah awal aku mengenal ia yang setengah musim belakangan ini telah merebut banyak hati gadis dengan paras menawan khas lelaki Spanyol.  Senyum indah dan style kerennya menyempurnakan maha karya indah ciptaan Tuhan.

Setengah musim ini, dia telah bermain di tingkat yang lebih tinggi. Itulah yang ia harapkan sejak menapakkan kaki di Anfield. Tapi tunggu, aku melihat sedikit perbedaan dengannya yang dulu. Apa dia lelah dengan pujian dan sandingan dari mereka? Apa dia lelah dengan ekspektasi yang selalu menuntutnya untuk tampil bagus? Ataukah dia mulai letih menunjukkan penampilan terbaiknya untuk menarik perhatian Brendan?  Tidak, aku harap tidak.

Aku selalu menanti setiap saat pertandingannya sejak ia bermain di level yang lebih rendah lewat sebuah layar kaca. Jaringan yang lamban tidak menyurutkan semangatku untuk melihatnya barang sedetik saja.  Determinasi, semangat, dan keinginan untuk selalu menampilkan yang terbaik itulah yang selalu aku ingin lihat darinya.

Apa kau masih terlelap disana? Kurasa tidak, ini sudah sore waktu Indonesia. Sepertinya mentari sudah menggerakkanmu untuk berangkat latihan pagi ini. Selamat berlatih. Bersemangatlah untuk menjadi yang terbaik, Suso.

Yang selalu mendukungmu dari balik kaca,

Aku.

Selasa, 22 Januari 2013

Teruntuk Kamu

Palembang masih tampak seperti biasa siang ini. Matahari masih senantiasa berbagi kehangatan untuk kami yang membutuhkan. Aku juga seperti biasa, bergolek malas di tempat tidur dengan buku tebal di tangan dan earphone sebagai pelengkap. Bosan. Sampai aku menerima sebuah pesan singkat yang mengundangku melangkah keruang tengah membuka laptop diatas meja. Hembusan nafas kecewa kurasakan setelahnya. Ya, tak kudapati apa yang menjadi tujuanku mengetik serangkaian link di kolom web adress firefox. Tapi jari jemari lincah ini tak berhenti begitu saja. Dengan gemulainya mereka mengetik rentetan link lainnya sebagai pengusir kebosanan. Membaca beberapa prosa membuatku rindu akan rutinitasku dulu, menulis tentang kamu.

Hai, apa kabar kamu disana? Aku kembali menulis lagi tentang kamu yang sudah pasti tak akan membaca tulisan ini. Sebetulnya aku juga tak pernah berharap kamu membaca tulisan ini. Biarkan aku mengagumimu lewat jemari yang menari di atas tuts keyboard laptop tua.

Hai, kamu yang disana. Apa kamu menikmati hidupmu saat saat ini? Aku beruntung dapat melihatmu menemukan kebahagiaan yang  akhirnya pantas kau dapatkan. Kamu pasti sudah lama menginginkannya bukan? Merasa dicintai dan diperdulikan orang yang kamu sayangi. Aku bahagia meskipun kamu tak pernah melibatkanku dalam hal ini.

Hai, kamu yang disana. Sebenarnya, aku tak tau apa yang ingin ku tulis untukmu, aku hanya ingin menulis. Jadi, maafkan tulisan sederhana yang dengan hina aku peruntukkan untuk kamu.

Semoga kau selalu bahagia,

Aku.