Not all writings show the writers' true feeling. It's only their ways to entertain the readers. Sincerely me

Jumat, 31 Oktober 2014

Titik Harap

Kau masih disana bukan?
Berdiri diseberang jalan, mencoba mengalihkan pandangan dg titik sudut menuju pada objek yang tidak asing lagi.
Setiap celah, setiap semesta merestuimu menemukan kesempatan itu kau pasti menujunya bukan?
Tak jemu melihatnya berlari kesana kemari, terjatuh, tertawa, berceloteh.
Mengetahui bahwa ia ada disekitarmu rasanya seperti itu saja cukup ya.
Tanpa berharap dan mengingkan lebih.
Dan kau bersandar pada dinding kusam itu, menerawang dan bertanya mengapa.
"Kehidupan ini aneh."
Atau
"Kenapa harus seperti ini."

Berpikir... terus seperti itu setiap harinya. Tanpa mencoba mengubahnya, tanpa kau tau bahwa ia juga mengharap yang sama.

Minggu, 05 Oktober 2014

Dalam Tanya

Instrumental adalah lagu yang paling jujur setidaknya menurutku seperti itu. Ia tak menebar-nebar janji, tak mengumbar-umbar rasa, ataupun memilu-milukan luka. Ia hanya diam. Berucap dalam keheningan, bertutur dalam tenang. Sepi dan syahdu.

Dalam alunan musik instrumen gadis itu terjaga hingga larut malam. Dengan kedua buku ditangan, ia membaca. Tidak, sebenarnya ia tidak benar-benar membaca. Ia hanya butuh sesuatu untuk membuatnya mengalihkan tanya. Setidaknya cara itu bekerja di awal 5 menit pertama.

Desahan nafasnya membelah keheningan malam. Menjadi sinyal bahwa ia menyerah pada keberpura-puraan ini. Semua kenaifan yang ia sembunyikan dalam balutan senyum yang diperlihatkan setiap harinya.

Bukankah semua manusia berpura-pura?

Kita ini sama, berpura-pura untuk melindungi jiwa lain agar tak terluka. Membangun dinding tebal transparan untuk menutupi sayatan akibat lisan. Menyepi dan mengurung diri di dalam lubang yang tak terjamah. Hingga akhirnya menutupi siapa diri kita sebenarnya. Gelap dan pekat.

Naif, aku biasa menyebutnya.

Selayaknya filosopi kopi, ia menunggu. Menunggu kapan harus meniup kopi yang panas, atau menyeruput sesaat setelah panas hilangnya. Ia sedang menunggu kapan ia harus menikmati kopinya.

Dalam tanya.
Dalam diam.
Dalam kenaifan.

Selasa, 23 September 2014

Sepotong September

Terkisah musim kemarau panjang menghampiri.
Langit kelabu tak kunjung membasahi.
Ia duduk termenung di samping batu besar yang melindunginya dari terik sinar matahari.
'Hangat' ujarnya..
Tak peduli keringat membanjiri, ia terus mengais.
Mencari sesuatu yang membuatnya menemukan.
Lalu ia berdiri dengan tangan terlungkup di depan dada.
Dalam keheningan ia menerawang, dengan sekelebat pertimbangan alam bawah sadar.
Ia menyerah dan pergi.
Sambil berharap hujan kan datang, menghapus jejak kakinya yang meragu.

Minggu, 10 Agustus 2014

Biarlah Seperti Ini

Biarlah seperti ini.
Mengais-mengais waktu; menemukan cara untuk mencapai kesempatan.

Biarlah seperti ini.
Mengorbankan ego; menggoda letupan-letupan perasaan tertahankan.

Biarlah seperti ini.
Agar diri mulai menghargai waktu.
Bahwa tak selamanya harus berucap.

Biarlah waktu yang kan menuntun.
Menemukan kesempatan yang hanya sesekali datang dengan harap berakhir cita.

Biarlah seperti ini.

Senin, 24 Maret 2014

Garis Batas

Senja terasa berbeda sore ini. Sinar keemasan berbalut hujan lalu menemani alunan lembut jari jemari Yiruma di tuts hitam putih. Aku selalu suka hujan dikala senja, apalagi pada malam hari — tidak, tidak, aku selalu suka hujan. Di waktu kapan saja.

Senja selalu mempesona bagi beberapa orang. Suasana paling tepat untuk memandang langit sambil menikmati secangkir kafein di tepi balkon, mereka bilang. Bagiku senja adalah kotak kenangan, perpisahan, dan janji-janji yang mengudara termakan waktu. Bernostalgia dengan mengambil sepotong senja, menuliskan beberapa baris aksara, lalu memasukkannya kembali kedalam kotak kenangan yang hanya diisi oleh aku dan pikiranku.

Aku selalu menarik sebuah horizontal lurus untuk memisahkan ruang-ruang mana yang tak ingin aku bagi. Ruang-ruang yang setiap slotnya punya kisah tersendiri. Sesuatu yang tak pernah aku izinkan siapapun memasukinya. Dan ketika horizontal itu terlangkahi, aku tau persis betapa berharganya setiap langkah itu.

Tapi sebagian orang tak mengerti, memaksa masuk menerobos batas yang telah ditetapkan. Menolak tidak peduli pada isyarat-isyarat lisan tak diucapkan. Terus begitu. Hingga akhirnya dinding itu semakin tinggi, semakin tebal, dan semakin lebar dari plot abu-abu yang telah lama dikenal.

Kamis, 23 Januari 2014

Seandainya

Apa yang terbayang dalam benakmu jika mendengar kata "seandainya" ?

Angan, ilusi, khayalan

Menurutku, seandainya adalah kata yang menjadi awal dari sebuah rangkaian harapan atau mimpi yang sedang mencoba untuk diraih atau bahkan tidak bisa diraih lagi?  Atau bisa dijadikan sebagai kata penyesalan akan satu tindakan bodoh yang pernah dilakukan?

Mungkin keduanya benar. Mungkin juga kau punya pendapat lain? Ah, apapun itu seandainya tetap seandainya. Seandainya tidak akan merubah kenyataan apapun, seandainya tetap menyimpan sesal — juga harapan kosong. Berharap yang itu-itu lagi, lalu dihempaskan oleh waktu yang menyeretmu kembali kepada kenyataan.

Tak perlu berhitung berapa kali aku selalu berucap seandainya. Sebuah kata yang sangat lumrah kuucapkan sejak bertemu denganmu. Berharap ibu peri tak sengaja mendengar, lalu mengabulkan harapan si empunya mata abu-abu ini. Nyatanya khayalan putus asa itu benar-benar tak sejalan, sekalipun aku memaksamu bertahan sekalipun aku berusaha mensejajarkan langkahku, semuanya tak akan lagi sama. Dongeng ini tak seperti dongeng-dongeng Walt Disney atau Andersen yang berakhir bahagia.

Seandainya waktu berjalan atas kemauanku, mampukah ia memperbaiki keadaan? Mampukah ia merekatkan kepingan yang hilang? Menyamakan jalan yang tak lagi sama? Hingga menyeimbangkan simfoni yang tak lagi padu? Sampai di satu titik waktu membuktikan, beberapa orang dapat tinggal di hatimu; tapi tidak di hari-harimu.