Not all writings show the writers' true feeling. It's only their ways to entertain the readers. Sincerely me

Senin, 24 Maret 2014

Garis Batas

Senja terasa berbeda sore ini. Sinar keemasan berbalut hujan lalu menemani alunan lembut jari jemari Yiruma di tuts hitam putih. Aku selalu suka hujan dikala senja, apalagi pada malam hari — tidak, tidak, aku selalu suka hujan. Di waktu kapan saja.

Senja selalu mempesona bagi beberapa orang. Suasana paling tepat untuk memandang langit sambil menikmati secangkir kafein di tepi balkon, mereka bilang. Bagiku senja adalah kotak kenangan, perpisahan, dan janji-janji yang mengudara termakan waktu. Bernostalgia dengan mengambil sepotong senja, menuliskan beberapa baris aksara, lalu memasukkannya kembali kedalam kotak kenangan yang hanya diisi oleh aku dan pikiranku.

Aku selalu menarik sebuah horizontal lurus untuk memisahkan ruang-ruang mana yang tak ingin aku bagi. Ruang-ruang yang setiap slotnya punya kisah tersendiri. Sesuatu yang tak pernah aku izinkan siapapun memasukinya. Dan ketika horizontal itu terlangkahi, aku tau persis betapa berharganya setiap langkah itu.

Tapi sebagian orang tak mengerti, memaksa masuk menerobos batas yang telah ditetapkan. Menolak tidak peduli pada isyarat-isyarat lisan tak diucapkan. Terus begitu. Hingga akhirnya dinding itu semakin tinggi, semakin tebal, dan semakin lebar dari plot abu-abu yang telah lama dikenal.