Senja terasa
berbeda sore ini. Sinar keemasan berbalut hujan lalu menemani alunan lembut
jari jemari Yiruma di tuts hitam putih. Aku selalu suka hujan dikala senja,
apalagi pada malam hari — tidak, tidak, aku selalu suka hujan. Di waktu kapan saja.
Senja
selalu mempesona bagi beberapa orang. Suasana paling tepat untuk memandang
langit sambil menikmati secangkir kafein di tepi balkon, mereka bilang. Bagiku
senja adalah kotak kenangan, perpisahan, dan janji-janji yang mengudara
termakan waktu. Bernostalgia dengan mengambil sepotong senja, menuliskan
beberapa baris aksara, lalu memasukkannya kembali kedalam kotak kenangan yang
hanya diisi oleh aku dan pikiranku.
Aku selalu
menarik sebuah horizontal lurus untuk memisahkan ruang-ruang mana yang tak
ingin aku bagi. Ruang-ruang yang setiap slotnya punya kisah tersendiri. Sesuatu
yang tak pernah aku izinkan siapapun memasukinya. Dan ketika horizontal itu
terlangkahi, aku tau persis betapa berharganya setiap langkah itu.
Tapi
sebagian orang tak mengerti, memaksa masuk menerobos batas yang telah
ditetapkan. Menolak tidak peduli pada isyarat-isyarat lisan tak diucapkan.
Terus begitu. Hingga akhirnya dinding itu semakin tinggi, semakin tebal, dan
semakin lebar dari plot abu-abu yang telah lama dikenal.