Di sepakbola, sering kita temui kakak-beradik bermain dalam satu club yang sama. Sebut saja si kembar Fabio dan Rafael dari MU, Toure bersaudara di Man. City, atau Milito bersaudara selagi masih di Zaragoza. Bagaimana dengan Barcelona ? Berikut catatannya..
1) Carles dan Arseni Comamala
Mungkin kalian agak sedikit asing mendengar nama dua orang pesepakbola ini. Dan saya juga tidak begitu banyak mendapatkan data mengenai mereka berdua.
Carles Comamala (Madrid, 1887 - Barcelona, 1976) adalah teman dari Gamper (Founder Barcelona) dan successor penyerang Barça ketika pendiri klub pensiun pada 1903. Comamala adalah pencetak gol yang luar biasa produktif (172 gol dari 145 pertandingan). Ia berseragam Blagurana sepanjang 9 musim dari 1903-1912. Ia adalah designer lambang Barça yang kompetisinya diselenggarakan pada 1910.
Mereka berdua adalah anak dari seorang Ayah yang berdarah Canary dan Ibu dari Basque.
2) Carlo dan César Rodríguez
Siapa yang tidak mengenal César Rodríguez ? Nama dan rekornya sebagai pencetak gol terbanyak di kompetisi resmi (232 gol) tercantum abadi sampai akhirnya Lionel Messi memecahkan rekor tersebut. 13 musim ia mengabdi untuk Barcelona (1942-55). El Pelucas -julukannya- terkenal dengan kemampuannya mencetak gol dari tendangan sudut. Ia sempat mencoba peruntungan sebagai pelatih Barcelona di tahun 1963, sayangnya hanya bertahan satu musim lalu ia hengkang.
Bagaimama dengan Ricardo a.k.a Calo ? Ia adalah seorang defender yang membela Barcelona selama 5 musim dengan hanya mencatatkan 71 jumlah penampilan. Dikutip dari website Barcelona, sebenarnya ia adalah defender yang solid. Hanya tidak pernah benar-benar membuktikan dirinya di dalam tim.
3. Marià dan Josep Gonzalvo
Mariano Gonzalvo Falcón atau yang lebih akrab di panggil Gonzalvo III (22 Maret 1922 – 7 April 2007) adalah salah satu pemain terbaik yang pernah berbaju Blaugrana. Dia didatangkan pada musim 1940/41, namun awalnya ia tidak bisa beradaptasi dg baik sehingga musim selanjutnya ia hengkang ke Real Zaragosa lalu kembali lagi ke Barcelona dan menghabiskan 8 musim di Azulgrana (1942-1955). Gonzalvo III adalah midfielder dengan kualitas dan visi yang sangat baik. Dia juga memiliki sundulan yang bagus untuk membantu tim mencetak gol. Ia bermain di 331 pertandingan Barcelona dengan 56 gol. Salah satu bentuk komitmen dan kecintaannya pada Barcelona ditunjukkan ketika ia menolak tawaran besar dari Torano.
3. Marià dan Josep Gonzalvo
Mariano Gonzalvo Falcón atau yang lebih akrab di panggil Gonzalvo III (22 Maret 1922 – 7 April 2007) adalah salah satu pemain terbaik yang pernah berbaju Blaugrana. Dia didatangkan pada musim 1940/41, namun awalnya ia tidak bisa beradaptasi dg baik sehingga musim selanjutnya ia hengkang ke Real Zaragosa lalu kembali lagi ke Barcelona dan menghabiskan 8 musim di Azulgrana (1942-1955). Gonzalvo III adalah midfielder dengan kualitas dan visi yang sangat baik. Dia juga memiliki sundulan yang bagus untuk membantu tim mencetak gol. Ia bermain di 331 pertandingan Barcelona dengan 56 gol. Salah satu bentuk komitmen dan kecintaannya pada Barcelona ditunjukkan ketika ia menolak tawaran besar dari Torano.
José Gonzalvo Falcón atau yang mempunyai panggilan Gonzalvo II adalah kakak dari Maria Gonzalvo. Kakak mereka Juli Golzalvo atau Gonzalvo I juga pemain sepakbola yang bermain untuk Espanyol. Sempat hijrah ke Barcelona di musim 1945/46 tapi karena ada sedikit masalah dg pelatih Barcelona, Josep Samitier Juli tidak pernah bermain untuk tim utama. Kembali lagi ke Gonzalvo II, ia menghabiskan 6 musim di Barcelona dg mencatatkan 5 gol dari 198 pertandingan di seluruh kompetisi. Bersama dengan Antoni Ramallets, Velasco, Josep Escolà, Joan Segarra, Estanislao Basora, César, Ladislao Kubala dan adiknya Gonzalvo III mereka membawa Barcelona memenangkan 5 titel La Liga dan Copa del Generalisimo 3 tahun berturut-turut. Wow!
4. Joaquim dan Llorenç Rifé
Joaquim Rifé Climent adalah salah satu Capita FC Barcelona dengan jumlah pertandingan terbanyak, 535 pertandingan. Joaquim memulai karir sebagai seorang winger, tapi di tahun 1969 akibat kegagalan di ajang Recopa melawan Cologne ia berpindah posisi sebagai midfielder hingga akhirnya melabuhkan diri menjadi seorang bek tanpa melupakan hasrat untuk menyerang.
Roger García Junyent adalah produk asli akademi Barcelona. Ia menghabiskan 8 tahun di akademi Barcelona (1986-1994). Ia mendapatkan 7 gelar selama 4 musim di timnas senior Barcelona. Lalu ia menyebrang ke club tetangga, Espanyol. Ia pensiun diumur yang lumayan muda, 30 tahun karena cedera. Dan sekarang menjadi assisten pelatih Sabadell CF.
Òscar Garcia Junyent. Namanya tentu tidak asing kan? Yap, dia adalah mantan coach Juvenil A 2010-2012. Ia menghabiskan 14 musim berseragam Blaugrana mulai dari akademi hingga tim utama. Ia juga pernah menjadi assistan coach timnas Catalonia dan sekarang menjadi pelatih di club Israel, Maccabi Tel Aviv.
6. Sergi dan Gerard López Segú
Sergio merupakan pemain bertalenta yang menjanjikan hingga dua club besar Spanyol, Barcelona dan Madrid kepincut. Untungnya, pencari bakat Barcelona Oriol Tort mampu meyakinkan keluarganya Sergio agar bergabung dengan Barcelona. Dan ia pun bergabung dengan La Masia yang nanti diikuti oleh dua adiknya Juli dan Gerard.
Gerard sempat hanya menghabiskan 1 musim di Barcelona B, ketika ia hijrah ke Valencia sebelum akhirnya dibeli kembali oleh Barcelona. Umpan-umpan dan kontrol bolanya yang ciamik mampu membawa Barcelona meraih gelar La Liga. Ya, cuma satu gelar sih :| Ia juga membela timnas Catalonia dari tahun 1998-2008. Lumayan lama loh.
4. Joaquim dan Llorenç Rifé
Joaquim Rifé Climent adalah salah satu Capita FC Barcelona dengan jumlah pertandingan terbanyak, 535 pertandingan. Joaquim memulai karir sebagai seorang winger, tapi di tahun 1969 akibat kegagalan di ajang Recopa melawan Cologne ia berpindah posisi sebagai midfielder hingga akhirnya melabuhkan diri menjadi seorang bek tanpa melupakan hasrat untuk menyerang.
Salah satu hal yang terkenal darinya adalah 'Guruceta Scandal'. FYI, Guruceta Scandal adalah salah satu pertandingan kontroversial sepanjang sejarah sepakbola Spanyol. Di leg ke 2 semifinal Copa del Generalisimo musim 1969/1970 antara Barça dan Madrid. Saat itu Madrid menang 2-0 di leg 1 dan di leg 2 saat Barça sedang unggul 1-0 wasit Guruceta Muro memberikan hadiah penalti setelah Velázquez dijatuhkan Joaquim. PADAHAL, posisinya 2 meter jauh dari kotak penalti. Skandal itu sangat heboh, beberapa pemain Barça di kartu merah hingga akhirnya pertandingan di suspended oleh wasit. Itu terjadi saat era Franco, yaaa biasa.
Saudaranya Llorenç berseragam Blaugrana selama musim 1958-1962
5. Roger dan Òscar Garcia Junyent
Roger García Junyent adalah produk asli akademi Barcelona. Ia menghabiskan 8 tahun di akademi Barcelona (1986-1994). Ia mendapatkan 7 gelar selama 4 musim di timnas senior Barcelona. Lalu ia menyebrang ke club tetangga, Espanyol. Ia pensiun diumur yang lumayan muda, 30 tahun karena cedera. Dan sekarang menjadi assisten pelatih Sabadell CF.
Òscar Garcia Junyent. Namanya tentu tidak asing kan? Yap, dia adalah mantan coach Juvenil A 2010-2012. Ia menghabiskan 14 musim berseragam Blaugrana mulai dari akademi hingga tim utama. Ia juga pernah menjadi assistan coach timnas Catalonia dan sekarang menjadi pelatih di club Israel, Maccabi Tel Aviv.
6. Sergi dan Gerard López Segú
Sergio merupakan pemain bertalenta yang menjanjikan hingga dua club besar Spanyol, Barcelona dan Madrid kepincut. Untungnya, pencari bakat Barcelona Oriol Tort mampu meyakinkan keluarganya Sergio agar bergabung dengan Barcelona. Dan ia pun bergabung dengan La Masia yang nanti diikuti oleh dua adiknya Juli dan Gerard.
Gerard sempat hanya menghabiskan 1 musim di Barcelona B, ketika ia hijrah ke Valencia sebelum akhirnya dibeli kembali oleh Barcelona. Umpan-umpan dan kontrol bolanya yang ciamik mampu membawa Barcelona meraih gelar La Liga. Ya, cuma satu gelar sih :| Ia juga membela timnas Catalonia dari tahun 1998-2008. Lumayan lama loh.
7. Frank dan Ronald de Boer
Frank dan Ronald adalah saudara kembar. Ronald kakak, dan Frank lahir 10 menit setelah sang Kakak. Karir mereka melejit di Ajax Amsterdam. Sayang keduanya gagal di Barcelona, bahkan Frank sempat terganjal kasus doping. Frank de Boer sekarang menjadi pelatih Ajax.
8. Jonathan dan Giovani dos Santos
Jona dan Gio adalah putra dari mantan pesepak bola Brazil, Zizinho. Selain mereka berdua, kakak Jona dan Gio Éder dos Santos juga persepak bola yang bermain di club Mexico. Gio si kakak dipromosikan lebih dulu ke Barca B ketimbang Jona. Mulai musim 2006, Gio sering dipanggil untuk memperkuat tim utama Barca. Hingga musim 2008 ia memutuskan bergabung dengan Tottenham Hotspur. Nah, di Spurs karirnya mulai meredup :( 3 kali ia dipinjamkan di klub yang berbeda.
Berbeda dengan sang Kakak, Jona menunjukkan progressnya. Beberapa kali ia dipanggil untuk memperkuat tim senior bahkan pernah mengisi posisi bek kanan yang notabenenya bukan posisi asli Jona. Sepeninggalnya Keita ke club China, bersama Sergi Roberto nama Jona santer diberitakan akan promosi ke tim senior.
Gio dan Jona sempat dipanggil memperkuat timnas Meksiko di Piala Dunia 2010. Btw, Jona pernah kena skandal bersama delapan pemain timnas Meksiko lainnya menjelang Copa Amerika. Jona terlibat dalam skandal
dengan pelacur saat menjalani pemusatan latihan di Quito, dan
dikeluarkan dari tim. Akibat ulahnya ini, Jona didenda €3.000, dan disanksi selama enam bulan dari sepakbola internasional.
9. Rafa dan Thiago Alcantara
Thiago dan Rafa adalah anak dari mantan pesepak bola Brazil, Mazinho dan ibunya mantan atlet Voli. Udah sering dong denger nama Thiago? Yups, belakangan ini nama Thiago akrab di telinga Cules dan penikmat sepakbola lainnya. More about Thiago cek disini. Bagaimana dengan Rafa? Rafa atau yang akrab dipanggil Rafinha ini sekarang bermain untuk Barca B. Sempat cedera dan membuat performanya menurun di putaran kedua musim kemarin. Semoga ia bisa menunjukkan progress musim depan dan bisa bermain bersama si kakak :)
Sedikit cerita tentang mereka berdua di timnas. Kalau Thiago yang merupakan pemain naturalisasi Spanyol lebih memilih membela timnas Spanyol ketimbang Brazil yang merupakan tanah kelahiran ayahnya. Sedangkan Rafinha ingin sekali membela timnas Brazil walaupun sempat beberapa membela timnas Spanyol. Saking inginnya, ia sampai menolak panggilan dari Spanyol U-19 yang akan menghadapi EURO U-19 hihihi..
Thanks to: FC Barcelona








