Not all writings show the writers' true feeling. It's only their ways to entertain the readers. Sincerely me

Minggu, 19 Mei 2013

Andres Iniesta: From Nothing Becomes Something

Andres Iniesta Luján lahir pada 11 May 1984 di sebuah desa kecil bernama Fuentealbilla di Albacete, Spanyol. Ia terlahir dari keluarga kelas pekerja. Ayahnya (José Antonio) seorang tukang batu dan Ibunya (Maria Luján) adalah pembantu. Kakek Iniesta punya sebuah bar lokal di desanya yang bernama Luján dan seluruh keluarga Iniesta biasa menghabiskan waktu bekerja disana jika tidak sedang melakukan pekerjaan mereka yg sebenarnya. Sekarang bar itu menjadi markas peña Barça yg dindingnya dihiasi potongan-potongan foto, artikel, dan jersey Iniesta. Bisa dikatakan itu museum kecil Iniesta. Iniesta tumbuh dengan selalu membawa sepakbola kemanapun ia pergi dan ia menghabiskan sebagian besar waktunya di lapangan bola; menendang dan menggiring bola atau yg ia sebut ‘teman baiknya’.  


Pada umur 8 tahun Iniesta terdaftar dalam tim Albacete Balompie dan mulai bermain bola secara teratur. Tapi ini sulit bagi orangtua dan usaha keluarganya karena utk latihan setiap hari, ia harus berkendara selama 45 menit. Iniesta biasa meninggalkan sekolah 1 jam lebih awal utk latihan bahkan beberapa hari ia pergi saat jam makan siang dan kembali lagi sesudahnya setelah 90 mile perjalanan dan latihan.


Umur 12 tahun tepatnya pada 1996 Iniesta bergabung dg La Masia. Adalah Alberto Benaiges yang berhasil memboyong Iniesta. Pelatih yang juga menemukan bakat-bakat terpendam dari Valdes, Pique, dan Jordi Alba. Ada dua hal yg diingat Benaiges tentang Iniesta: Pintar di lapangan dan cengeng bila sudah di kamar.

Benaiges: “Pertama kali melihatnya sewaktu masih memperkuat Albacete pada turnamen tujuh lawan tujuh ketika 1996 silam. Dia sangat kecil tapi begitu pintar. Itu yang pertama saya ingat darinya. Lalu kami pun merekrutnya. Umur 12 tahun, Iniesta mulai masuk La Masia. Itu masa-masa yang sulit untuknya. Dia begitu menderita karena jauh dari orang tua. Saya sempat tak yakin dia bisa melaluinya. Tapi dia tak pernah bilang ingin pergi. Dia memilih bertahan dan itu jadi bukti paling awal dari determinasinya.”

Kala itu Iniesta beserta keluarga harus menempuh perjalanan panjang dari desanya menuju Barcelona. Dengan berat hati keluarganya melepaskan Iniesta ke La Masia.

Iniesta:  "Saat di perjalanan, kami berhenti utk makan tapi tak ada yg menyentuh makanannya. Ibuku menangis, ayah tidak lapar dan kakekku mencoba menghibur orang-orang."

Pada awalnya Iniesta hanya punya satu rencana — pergi ke Madrid dan bermain utk El Real. Tetapi orang tuanya mendengar bahwa Madrid bukan tempat yg aman utk anak mereka, jadi mereka berubah pikiran dan mengirimnya ke Barcelona. Bulan-bulan awal di La Masia, Iniesta merasa ga betah dan sering homesick.

Iniesta: "Hari-hari disana adalah yg terburuk dalam hidupku. Kamu berada 500km jauhnya (dari desanya), tanpa keluarga. Kamu berasal dari tempat kecil dimana kamu bisa berjalan kemanapun dan perubahan itu sangat besar.  Ada banyak malam dimana aku berpikir: ‘Aku ingin pulang’. Saat-saat yang sangat sulit. Tapi aku harus kuat. Bahkan di umur 12 tahun aku berpikir: ‘Aku harus berjuang. Aku telah  datang sejauh ini dan tidak ada kata kembali.’
Iniesta: "Aku lamban beradaptasi dg situasi baru. Aku ingat aku terus menerus menelpon mereka. Aku harus melihat mereka, bersama mereka, mendengarkan merekka. Di bulan2 pertama seperti neraka, aku hanya bertemu orangtuaku sekali atau dua kali dalam sebulan. Situasi keluarga tidak mengizinkan utk lebih. Kapanpun mereka mengunjungiku aku akan memeluk mereka. Aku akan menjadi laki-laki paling bahagia di bumi. Kami akan menghabiskan weekend bersama, tak terpisah sedetikpun bahkan aku akan tidur dengan mereka.”
Jorge Troiteiro (Teman satu kamar Iniesta): "Kebanyakan harinya dihabiskan dg menangis, karena ia jauh dari keluarganya. Jadi, aku bercanda utk menghiburnya. Tapi hal terhebat bagi kami adalah melihat Camp Nou dari jendela dan kami biasa memimpikan bahwa suatu hari nanti kami akan sukses disana."
Di tahun 1999 bersama Barça U-15, Iniesta memenangkan kejuaraan Nike Premier. Saat itu Iniesta yang menjadi kapten tim menerima piala Nike Premier dari Pep Guardiola, idolanya. Pep bilang ke Iniesta, dalam waktu 10 tahun dia akan ngeliat Iniesta melakukan hal yang sama di tim utama. Pep juga bilang ia baru aja ngeliat bocah 15 tahun yg bisa membaca pertandingan lebih baik darinya.



Setelah moment itu, Iniesta langsung balik ke kamarnya dan mengganti poster lama Guardiola dg yang baru, yang ditandatangani oleh idolanya. Di poster Pep nulis: “To the best player I’ve ever seen.” 

Ketika Iniesta berumur 18 tahun, keluarganya pindah ke Barcelona utk bersamanya. Tapi kakek dan neneknya ga ikut, sebenarnya susah bagi keluarga Iniesta meinggalkan desa itu dan pindah ke kota besar. Bahkan sampai saat ini mereka masih rutin berkunjung ke desa tua mereka.

5 Februari 2001, Llorenç Serra Ferrer mengizinkan Iniesta berlatih dengan tim utama. Iniesta pikir dia bercanda, tapi Ferrer berkata:
Ferrer:  “Aku mengizinkannya latihan karena dia sgt spesial. Dia sederhana, setia, bertanggung jawab dan rendah hati. Dia memiliki kematangan emosi yang luar biasa dan sangat pintar. Dia benar-benar mendengarkan dan ingat semua detail.
Saat itu ada Pep  masih ingat sama Iniesta. Pep bilang gini sama rekan setimnya: “Ingatlah hari ini, hari dimana kalian latihan pertama kalinya bersama Andrés Iniesta”. :’) 

Masih saat sesi latihan tersebut, Pep bilang ke Xavi gini: “Kamu akan membuatku pensiun, tapi anak ini akan membuat kita semua pensiun.

Iniesta termasuk tipe introvert yang jarang ngomong alias pendiam. Ketika bergabung dg La Masia ia hanya memperkenalkan diri dengan nama Andresito lalu duduk dan diam. 


Empat tahun silam setelah  Barcelona mengalahkan Madrid, Iniesta diinterview sama wartawan2. Dia bicaranya halus banget bahkan wartawan yang di deretan depan dia sampe berusaha untuk dengerin dengan seksama. Yang menarik, Xavi yang juga lagi di interview 3 meter darinya sempat berhenti berbicara dua kali hanya untuk mendengar Iniesta menjawab pertanyaan jurnalis. Mungkin Iniesta bukan orang yang suka ngomong, tapi ketika ia berbicara semua orang akan mendengarkannya.


 Walaupun sekarang Iniesta udah dapet gelar dan uang yang banyak, ia masih tetap rendah hati seperti dulu. Ia juga ga suka hura-hura, dunia malam, pesta, ataupun tato.

Iniesta: “Aku suka kembali ke kota kecil dimana aku tumbuh dan hang out bersama teman lama. Mudah bagiku utk menjadi diriku sendiri. Aku adalah bagaimana orang tuaku mendidikku. Mustahil aku kehilangan nilai2 itu. Ketika aku 12 tahun, ayahku menambung uang selama 3 bulan utk membelikanku sepatu predator. Aku punya banyak uang sekarang, tapi setiap kali aku  melihat sepatu itu aku ingat darimana aku berasal.”
Iniesta: “Disko? Itu bukan aku."
 Iniesta: “Setiap orang berbeda. Kamu bukan pria yg buruk jika bertato dan kamu belum tentu pria baik jika tidak bertato. Setiap orang berusaha melindungi image yg mencerminkan orang macam apa mereka. Beberapa org menyukai mu, beberapanya lagi tidak. Pada akhirnya kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri.”
Pep: “Ia tidak mewarnai rambutnya, memakai anting ataupun bertato. Itu yang membuat dia tidak menarik perhatian media tapi ia yang terbaik.”
Iniesta adalah orang yang setia kawan. Jadi sebelum semifinal melawan Chelsea 4 tahun lalu, Iniesta janji ngasih teman-temannya tiket final UCL 2009 tapi sayangnya ia ga punya tiket sebanyak yg dia butuhin. Jadi dia nanya bojan bisa ga dia minta sebagian tiketnya Bojan. Bojan menjawab: “Tentu saja jika kamu mencetak gol malam ini.” And Iniesta did it. Setelah mencetak gol, satu-satunya yg ada di pikiran dia adalah tiket untuk teman-temannya.

Selebrasi Iniesta di semifinal vs Chelsea 
Ingat Dani Jarque kapten Espanyol yg meninggal akibat serangan jantung? Iniesta adalah salah satu orang yang terpukul atas kepergian sahabatnya itu. Iniesta mempersembahkan sebuah selebrasi untuk Dani Jarque setelah ia mencetak sebuah gol penentu di Final Piala Dunia 2010. Ia membuka kaus yang bertuliskan .Dani Jarque: Siempre con  nosotros’ atau artinya Dani Jarque: Always with us’

Dani Jarque dan Iniesta

Selebrasi Iniesta di final World Cup 2010

Iniesta: “Aku ingin membawa Dani bersama ku dan bersama tekan tim lainnya. Kami ingin merasakan kekuatannya. Kami ingin memberinya pernghormatan dan ini adalah kesempatan terbaik untuk melakukannya.”

Iniesta: "Kematian Jarque benar-benar merubah visiku atas hidup. Aku kehilangan keseimbangan pribadiku dan segala sesuatu di sekelilingku aktif dikepalaku. Pemikiran yang sangat buruk melintas dikepalaku. Terkadang aku berjuang untuk mengerti apa yang terjadi di dunia ini. Bencana alam seperti banjir di Australia, atau gempa bumi di Jepang membuatku sangat sedih.  Aku mendapatkan pemikiran yang sangat down tentang pengalaman mengerikan yang dimiliki beberapa orang. Apa yang terjadi di Mesir, contohnya segala urusan dengan Gaddafi. Semua hal ini membuatku sedih. Aku benci ketidakadilan, kekerasan terhadap anak-anak dan penganiayaan wanita.”

 Well, Don Andres. Your words really touch my heart. How lucky Ana is. :')

Ada cerita lucu yg akan menutup ending kisah ini. Jadi, suatu hari Iniesta lagi senderan di sebuah cafe di Barcelona. Lalu ada seorang cewek manggil “excuse me”. “Yes” jawab Iniesta. Mungkin Iniesta berpikir ini cewek mau minta foto, tandatangan, atau hal lain yang biasa dilakukan fansnya. Tapi si cewek bilang gini, “Aku pesan Fanta Orange, please.” Jadi cewek ini ngira Iniesta pelayan cafe. -__- Lalu apa yg dilakukan Iniesta? Ia pergi ke dapur cafe dan membawakan pesanan cewek tadi. :’)

                                               The End

Sources: Suite 101 Total Barca Sepakbola Lintas Guardian Tumblr and some personal blogs. Thanks a lot! :D