Potret Pendidikan Bangsaku
Secuil kisah memilukan di salah satu program tv menggerakkan tangan ini untuk menulis satu tulisan kecil. Keluh kesah seorang anak Indonesia tentang pendidikan di negaranya.
“Ga ada biaya,” tutur seorang gadis desa dengan polosnya.
Ekonomi, memang selalu menjadi alasan utama seorang anak putus sekolah. Lalu, itu salah mereka ? Mereka mau, mereka ingin. Tapi apa daya, tidak ada kesempatan. Kalaupun ada itu pasti satu hal yang amat sangat langka.
Satu kalimat tersebut sanggup mengiris perasaan. Pilu mendengarnya. Ditengah derasnya program ‘Dana BOS’ atau ‘Sekolah Gratis’ ternyata masih ada anak bangsa yang putus sekolah atau bahkan tidak bisa mencicipi bangku sekolah. Apa penyebarannya hanya di kota-kota besar saja ?
Saudara-saudaraku, sebegitu terbatasnya kah pendidikan di Indonesia ? Atau hanya milik mereka yang “beruang” saja ? Apa anak-anak pedalaman tidak boleh mempunyai mimpi ? Tidak terengguhkah perasaan kalian untuk memberikan mereka jalan mengubah kehidupan ?
Indonesia memiliki potensi alam yang sangat melimpah. Siapa yang akan mengolahnya pabila terbatasnya anak bangsa yang berilmu. Atau kita akan berpuas diri, duduk manis dan menonton negara asing mengeruknya dengan anak bangsa sebagai BURUH KASAR yang cuma menerima 1% dari kekayaan negerinya ? Ironis memang.
Dan satu lagi mutu pendidikan. Agak sedikit heran kenapa mutu pendidikan di pedalaman dan kota besar seperti Jakarta, Bandung atau Jogja berbeda 180 derajat. Bukan hal yang aneh kalau kita mendengar siswa dari sekolah ternama mendapatkan nilai UN tertinggi di Indonesia, dan bukan satu hal yang aneh pula apabila kita mendengar banyak siswa yang tidak lulus dari kabupaten tertentu.
Apa yang membedakan ? Infrastruktur yang sangat terlihat jelas pastinya. Bagaimana siswa bisa nyaman belajar dengan kondisi sekolah yang bagaikan gubuk reyot tak terawat ? Atau dengan banjir semata kaki ? Belum lagi banyaknya nyamuk yang menghisap darah mereka. Lalu tenaga pengajar yang minim jumlahnya. Kualitas ? Bagaimana kualitasnya ? No comment. Anda bisa menilai sendiri. Bandingkan dengan sekolah kota besar yang berlantai dua atau tiga dengan lantai keramik. BerAC, bahkan lapangan yang luas. Tenaga kerja ? Tidak usah diragukan lagi, kebanyakan sudah strata 1 ke atas. Mengikuti program pertukaran guru ke luar negeri dan sebagainya.
Apakah ada yang bisa menjelaskan pada saya tentang ketimpangan ini ?
Dibalik itu semua, saya tetap bangga kepada mereka yang telah membawa harum pendidikan Indonesia di luar negeri. ‘Terimakasih’
Saya tidak bermaksud memojokkan satu pihak, hanya berkeinginan menulis ‘sebongkah’ keluh kesah gadis ababil. Terimakasih







