Not all writings show the writers' true feeling. It's only their ways to entertain the readers. Sincerely me

Jumat, 05 April 2013

Dari Seorang Kondektur Bus

Sebuah kisah lama yang ingin kuabadikan bersama tulisan-tulisan tak bernyawa lainnya..

Sebelumnya, aku ingin bertanya: Apa pendapatmu tentang seorang kondektur bus? Kumel, kucel, urak-urakan, bau, nakal, menyeramkan dan perspektif negatif lainnya pasti terlintas di pikiran kalian. Tapi ada momen saat pepatah 'Dont judge book by its cover' sepenuhnya benar. Dan inilah ceritanya..

Suatu hari di saat matahari berada di posisi tertingginya, aku baru saja selesai les dan berencana pulang ke rumah. Bus jurusan bukit lah yang senantiasa mengantarkanku pulang. Belum ada yang berbeda saat aku masuk dan duduk di dalam bus, asap rokok masih saja menjadi penghias di derup udara yang bercampur polusi. Seorang kondektur berperawakan kurus, kumel, urak-urakan dengan cat rambut merah bak Ayu Ting Ting datang menagih ongkos setiap penumpang.

10 menit, 14 menit, 20 menit berlalu saat bus berhenti tepat di depan seorang lansia renta yang berjalan tertatih ke dalam bus. Dentingan koin beradu dengan kaca bus terus diketuk-ketukkan pertanda bus belum boleh berjalan. Dengan gesitnya, kondektur itu mencegah lansia tadi duduk di kursi yang berada dekat pintu yang tentu saja berbahaya bagi dirinya. Ia bahkan mendesak seorang wanita muda untuk bertukar tempat duduk dengan lansia itu. Hingga ia yakin lansia itu aman dan nyaman di bangkunya, ia memberi tanda bus untuk berjalan. 

Beberapa saat kemudian ketika nenek tadi (lansia) ingin membayar ongkos, ia (kondektur) bersikeras untuk tidak menerimanya. Ya memang ongkos bus cuma Rp 2.000 tapi tentu sangat berharga bagi mereka yang harus menyetorkan uang sewa setiap hari. Jangan bayangkan kondektur tadi menolak dengan halus atau lembut, dengan gaya 'selenge-an' (dengan maksud yang baik) ia menepis uang tadi dan berjalan meninggalkan nenek yang tampaknya bengong dengan sikap kondektur muda satu ini.

Momen lain datang saat nenek itu turun lebih awal dari tempat tujuanku, dengan sigapnya si kondektur menuntun beliau turun dari bus dan menurunkan barang-barang yang dibawa. Dan ketika bus mulai melaju, dengan ramahnya ia melambaikan tangan seraya berkata, "hati-hati nek".

Menurutmu simpel kah kisah ini? Mungkin ya, tapi kondektur ini mengajarkan banyak hal; tata krama, sikap menghormati dan membantu orang yang lebih tua. Mungkin untuk kalian (dan mungkin diriku sendiri) yang terlilit ego yang besar tak akan menyangka bahwa pelajaran moral bisa didapatkan dari seorang kondektur bus selengek-an dengan derajat dan latar belakang pendidikan yang jauh dibawah kalian. Mulailah belajar bersikap untuk beberapa hal kecil yang terlupakan.

Untuk yang telah memberikan pelajaran berharga, 

Terima Kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar